PECINTA IPA: contoh

PECINTA IPA

Memuat Segala Ilmu Pengetahuan


Showing posts with label contoh. Show all posts
Showing posts with label contoh. Show all posts

Sunday, July 15, 2018

All About Material Value

All About Material Value

At the time that no one can do is if a person has absolutely no material at all. This is what is often felt by people who are in the middle to lower economic level. Someone feels so sick when they have no material. Matter is an inseparable partner of life. So life can be said to live in a material world. If you live in another spiritual world again the story.
Material Ilustration
All experience can be the most valuable life lesson. Like the pride of someone who is at stake. Every moment humans experience things that hurt. The sick thing that from the heart seemed to pierce from within the conscience. Circumstances like a knife so pierced. enough until then.

Material problems, Almost all humans in all corners of the world are busy thinking about the material all the time. Now all good affairs many or little can not be separated from the name of the material. Even pee just pay and other examples such as parking vehicles. As if if no material will not be able to live, especially in meeting basic needs. Diamana looking for the material? of course with work. Now that's a big question, All work is making money? Is it appropriate or appropriate between work and income?

A person's income varies depending on the type of work, mostly like that. Not from the weight of his job. Just imagine it like a stone-breaker or a worker is usually a smaller result than an office person. This is what causes a lot of social jealousy. Many among the people who talk to each other. If it happens then there will be chaos.

As many of the problems that occur in society, chaos will grow and not conducive. Is this society to be expected?

Back to the material problem, which is a problem that is so complicated for all circles that can be linked to the problems of society. All these problems can happen anytime. So work as well as possible. Whatever the job, live and work according to clear instructions. Hopefully by working properly all the problems about the material can be overcome well.

Tuesday, February 6, 2018

Membersihkan Pekarangan Sekala Niskala

Membersihkan Pekarangan Sekala Niskala

Bencana alam meupakan hal yang tidak bisa diduga. Masalahnya, tak hanya soal keselamatan, kerugian materi, tapi ada urusan yang tak kalah penting yakni mengembalikan energi kebersihan sekala dan niskala rumah yang ditempati.
Design Rumah Bali

Bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang yang terjadi di sejumlah lokasi di Buleleng sepekan terakhir turut merusak ratusan rumah milik warga. Selain merusak rumah, warga juga harus mengungsi karena halaman rumah terendam air setinggi dua meter.

Masalah tidak hanya berhenti di sana. Rumah yang sempat terendam banjir tentu memerlukan waktu berhari-hari agar pulih dan bisa ditempati kembali seperti semula. Rupanya, banjir yang sempat merendam rumah dan seisinya, selain menimbulkan kekotoran secara skala (nyata), juga menimbulkan kekotoran niskala.

Lalu, bagaimana menetralisasi secara niskala rumah yang sempat dihantam bencana? Menurut Ketut Agus Nova, S.Fil.H, M.Ag yang akrab disebut Jro Anom, bila rumah sempat diterjang bencana banjir ataupun tanah longsor, maka wajib hukumnya dibuatkan upacara ngulapin. Tujuannya untuk memarisudha (menyucikan) pekarangan rumah beserta isinya agar kembali bersih secara niskala.

"Itu wajib dibuatkan upacara pacaruan dan ngulapin. Nah, guna memarisudha pekarangan itu, dibuatkan banten caru eka sata," kata Jro Anom kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (1/2) kemarin di Singaraja.
Upacara, Upakara

Beragam jenis kotoran sampah yang terbawa arus banjir, lanjut Jro Anom, akan menimbulkan cemer (kotor) bagi pekarangan. "Jika sudah kotor, maka Ida Bhatara Wiswakarma yang bersthana di bangunan rumah diyakini bisa saja meninggalkan rumah tersebut," terangnya.

Ditegaskannya, jika rumah sudah tidak besrthana Bhagawan Wiswakarma, maka rumah akan rentan dihuni Bhutakala. Otomatis, si penghuni rumah akan merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut dan berdampak terhadap psikologis penghuninya.
"Kalau rumah sempat diterjang banjir, maka Ida Bhatara Bhagawan Wiswakarma akan enggan berstana di rumah itu. Makanya, melalui upacara ngulapin inilah harus dilakukan sehingga Bhatara Wiswakarma berkenan bersthana kembali. Kalau rumah tidak dinetralisasi pasca terkena bencana, rentan ditempati Bhutakala," ungkapnya.

Disinggung terkait prosesinya, Jro Anom menyebut rentetan upacara ngulapin diawali dengan upacara Pacaruan Eka Sata. Ciri banten Caru Eka Sata ini menggunakan ayam brumbun. Selanjutnya pacaruan ayam brumbun diikuti dengan banten beakala, durmanggala prayascita, sesayut sapuh lara, sesayut kala meraradan, banten tadah kala dan banten segehan agung. "Banten itu khusus untuk caru Eka Sata saja atau marisudha karang," jelasnya.
Karang Tenget

Penggunaan caru Eka Sata ini, sebut Jro Anom, disebabkan karena jangkauannya sempit hanya di lingkungan rumah saja. Berbeda jika melakukan pacaruan di pura atau di tingkat desa, maka wajib menggunakan caru Panca Sata.

Sedangkan untuk banten ngulapin adalah banten suci, banten peras pejati, banten pangulapan pangambean, banten pasupati, banten sesayut pangenteg sari, dan yang paling penting adalah banten tegteg atau daksina sebagai sthana Bhagawan Wiswakarma."Setelah karang dinetralisasi, barulah Bhagawan Wiswakarma dipanggil melalui upacara ngulapin. Sehingga Bhagawan Wiswakarma kembali berstana," bebernya.

Saat bencana menerjang, tentu tak hanya pekarangan dan rumah saja yang terdampak. Bagaimana dengan palinggih panunggun karang yang terkena banjir? Dosen STAHN Mpu Kuturan ini kembali menjelaskan, jika sanggah kemulan dan merajan alit terkena bencana harus dibuatkan banten Guru Piduka Alit (permohonan maaf). selain itu, ada juga banten Peras Pajati.

Upacara pacaruan dan ngulapin ini, sebut pria kelahiran Desa Kekeran, Kecamatan Busungbiu ini, tepat dilaksanakan saat Kajeng Kliwon atau bertepatan Tilem. Menurutnya, Kajeng Kliwon merupakan pertemuan tri wara kajeng dengan pancawara kliwon. Pertemuan antara Kajeng dengan Kliwon, diyakini sebagai saat energi alam semesta yang memiliki unsur dualitas bertemu satu sama lainnya.
Rumah Tradisional Bali

"Rahina Kajeng Kliwon diperingati sebagai hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama, dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Maka, sangat tepat melaksanakan pacaruan sekaligus memarisudha pekarangan saat hari ini," ujarnya.
Waktu ini dikatakan tepat, lanjutnya, karena merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tiga Bhucari.

semoga bisa membantu.

Friday, January 5, 2018

DOA ACARA RAPAT RESMI BARU

DOA ACARA RAPAT RESMI BARU
 Selamat datang di Web-Blog pecinta IPA, disini saya akan memberikan ringkasan Doa Rapat baik secara Resmi dan tidak Resmi, dengan Tujuan Agar terselamatkan. Berikut adalah Doanya :


Ilustrasi Sangkep/ Rapat di Balai Banjar



Om Swastyastu
Om Awignam Astu Namo Siddham

Om Sam Gacchadwam Sam Wadadwam
Sam Wo Manamsi Janatam
Dewa Bhagam Yatha Purwe
Samjanana Upasate
Om Samani Wa Akutih
Samana Hrdayani Wah
Samanam Astu Wo
Mano Yatha Wah Susahasati

Om Ano Bhadrah Krattawo Yantu Wiswatah

(Ya Tuhan, hamba berkumpul di tempat ini hendak bicara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikir sebagai mana halnya para dewa selalu bersatu. Ya Tuhan, tuntunlah kami agar sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran hingga dapat hidup bersama dalam sejahtera dan bahagia. Ya Tuhan, semoga pikiran yang baik datang dan segala penjuru.)

Om Hyang Widhi, yang Maha Pengasih dan Penyayang, hanya kepada-Mu kami memanjatkan Doa dan memohon Anugrah. Pada Hari ini kami Keluarga Besar SDN 3 Alasangker mengadakan acara Rapat Komite dan Wali Siswa, Berikanlah kami keselamatan, lindungilah kami dari segala hal yang tidak baik. Bebaskanlah kami dari segala rintangan sehingga kami dapat mencapai tujuan bersama.



Om Hyang Widhi, 
Ampunilah Kami, ampunilah segala kekeliruan kami, dan bebaskan kami daari segala dosa.

Om Santih, Santih, Santih Om


Catatan : Doa tersebut menurut Hindu, untuk yang lain sesuaikanlah dengan kepentingannya masing-masing.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon dikoreksi agar pengembangan selanjutnya semakin sempurna. 

Thursday, August 31, 2017

Contoh Pra Wedding Pakaian Adat Bali

Contoh Pra Wedding Pakaian Adat Bali

Salah satu Contoh Pra Wedding dengan memakai pakaian adat Bali. ‘prewedding’ sendiri adalah masa sebelum pernikahan. Namun seiring waktu, banyak orang yang akhirnya menganggap bahwa foto ini berarti sebuah foto di suatu lokasi dengan konsep serta pakaian tertentu. Kemudian, hasil foto tersebut dipajang pada acara resepsi, pada undangan, atau diselipkan di suvenir pernikahan.

Di Indonesia, banyak orang yang sekedar mengatakan foto ‘prewed’. Padahal, di luar negara kita, istilah ini tidak ada. Di Singapura, foto semacam ini disebut ‘wedding photoshot’. Kalau di Amerika, foto sebelum pernikahan dinamakan ‘engagement photoshot’. Eh, bukankah artinya foto pertunangan, ya? Pada dasarnya adalah sama, yaitu berfoto berdua dengan pose manis nan romantis untuk dipajang pada waktu resepsi.

Tetapi terkadang foto yang dibuat untuk menandai bahwa orang tersebutlang yang melaksanakan pernikahan, di Bali sendiri nikah disebut dengan "Nganten"

Thursday, December 15, 2016

Makalah Filsafat Ilmu ke-2

Makalah Filsafat Ilmu ke-2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan seperti sekarang ini, setiap orang hampir setiap saat dihadapkan dengan logika dan/atau sebaliknya. Secara sederhana dipahami logika itu berpikir secara logis, atau masuk akal. Tidak sedikit kehidupan kita dan sekitar kita menyaksikan dan merasakan sesuatu yang tidak logis, baik menyangkut perihal kemasyarakatan, pemerintah­an, kebangsaan, maupun persoalan kelompok dan individu dalam ma­syarakat, tidak ketinggalan perihal di dunia pendidikan, politik, ekonomi, hingga birokrasi.

Sesuatu yang logis biasanya akan mudah dipahami oleh nalar kita, tetapi sesuatu yang tidak logis kadang bertentangan dengan pikiran dan hati kita. Dalam banyak hal, kita sering mengalami berbagai kejadian yang kita pikir tidak logis, misalkan ada yang jelas-jelas melakukan ko­rupsi dengan uang miliaran rupiah bahkan triliunan, tapi di mata hukum kok sama dengan seorang pencuri seekor ayam. Ada juga yang sudah jelas terbukti bersalah tapi tidak bisa disentuh oleh hukum, ada juga di dunia pendidikan sudah sekolah ke jenjang tertinggi tetapi tidak ada institusi atau dinas pemerintah dan swasta yang dapat menerima dirinya untuk bekerja sehingga harus puas di terminal pengangguran.
Masih terdapat sederet soal yang kadang kita hadapi secara tidak logis dalam kehidupan, sehingga ada yang mengatakan inilah "zaman edan, yakni satu zaman yang diwarnai oleh perihal serba-serbi tidak masuk akal." Tapi ada juga yang mengatakan, sesuatu yang tidak masuk akal itu indah, seindah kebohongannya. Sebab katanya kalau masuk akal, logis dan masuk dalam nalar kita itu sih biasa saja hanya "linier" tapi sesuatu yang irasional itu yang luar biasa, "artinya otak cerdasnya jalan" secara diagonal. Lagi-lagi inilah "zaman edan, logika yang edan, berpikir yang edan, oleh anak negeri yang edan." Namun demikian, atas dasar realitas itulah diperlukan suatu logika dalam kehidupan manusia, agar kita mengetahui kapan saatnya berpikir logis, kapan saatnya kita berpikir tidak logis, setiap tempat dan waktu ada logikanya, setiap logika ada waktu dan tempatnya. Kalau memahami hakikat kedua konsep ini dengan baik dan benar, justru kita dapat me­nempatkan diri dalam segala keadaan secara proporsional di tengah ma­nusia yang bervariasi tingkat logika dan pemikirannya.

B. Rumusan Masalah
Dengan Pentingnya Logika dan Penalaran dalam Ilmu Pengetahuan, kami menemukan beberapa masalah yang akan kami bahas. Masalah tersebut kami rumuskan antara lain.
1. Apa Pengertian Logika dan Penalaran ?
2. Apa Hakikat Logika ?
3. Apa Logika dan Ilmu Pengetahuan ?
4. Bagaimanakah Bentuk Berpikir dan Bangunan Logika ?
5. Apa Peran Logika dalam Filsafat Ilmu ?
6. Bagaimana Logika Deduktif dan Induktif dalam Ilmu Pengetahuan ?
7. Bagaimana Logika dan Kesesatan Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan ?
8. Apa Perbedaan Logika Berpikir Barat dan Timur ?
9. Bagaimana Logika Berpikir antara Keraguan dan Kepastian ?

C. Tujuan Penulisan
Dengan dasar rumusan masalah yang ada, maka tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1. Untuk Mengetahui Pengertian Logika dan Penalaran
2. Untuk mengetahui Hakikat Logika 
3. Untuk mengetahui Logika dan Ilmu Pengetahuan 
4. Untuk Mengetahui Bentuk Berpikir dan Bangunan Logika 
5. Untuk mengetahui Peran Logika dalam Filsafat Ilmu 
6. Untuk mengetahui Logika Deduktif dan Induktif dalam Ilmu Pengetahuan 
7. Untuk mengetahui Logika dan Kesesatan Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan 
8. Untuk Mengetahui Perbedaan Logika Berpikir Barat dan Timur 
9. Untuk mengetahui Logika Berpikir antara Keraguan dan Kepastian .

D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diambil dari penyusunan makalah ini, antara lain:
1. Sebagai referensi bagi pembaca dan pengembang materi selanjutnya pada umumnya.
2. Untuk menambah wawasan tentang Logika dan Penalaran dalam Ilmu Pengetahuan pada khusus
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Logika dan Penalaran
Sejak kehadirannya di muka bumi ini, manusia sudah menggunakan akal fikirannya untuk melakukan dan menyelesaikan suatu masalah. Walaupun pada saat kehadirannya pertama kali di muka bumi jalanfikiran manusia tidak serevolusioner sekarang ini. 
Seiring dengan berkembangnya zaman, berkembang pula cara berpikir manusia manusia sebagai mahluk yang unik berbeda dari mahluk lainnya. Keunikan manusia terletak pikiran yang dimilikinya. Dalam menggunakan fikiran mungkin saja manusia melakukan kesalahan. Cara belajar dari kesalahan yang di perbuat pada dasarnya merupakan karakteristik yang sama pada semua mahluk hidup. Apakah itu pada binatang tingkat rendah, tingkat tingi, apakah itu pada simpanse atau seorang ilmuwan. 
1. Logika
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah.
Penalaran (reasoning) mempunyai beberapa pengertian :
Proses menarik kesimpulan dari pernyataan – pernyataan.
Penerapan logika dan atau pada pemikiran abstrak dalam memecahkan masalah atau tindakan perencanaan.
Kemampuan untuk mengetahui beberapa hal tanpa bantuan langsung persepsi indrawi atau pengalaman langsung.
Penalaran ilmiah merupakan gabungan dari penalaran itu. Penalaran merupakan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. 
Logika mempelajari masalah penalaran dan tidak semua kegiatan berpikir itu adalah sebuah penalaran. Kegiatan penalaran dalam logika disebut juga dengan penalaran logis. Penalaran adalah proses dari akal manusia yang berusaha untuk menimbulkan suatu keterangan baru dari beberapa keterangan yang sebelumnya sudah ada. Dalam logika, keterangan yang mendahului disebut premis, sedangkan keterangan yang diturunkannya disebut kesimpulan. Penalaran dianggap sebagai konsep kunci yang menjadi pembahasan dalam logika. Penalaran adalah suatu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia untuk memecahkan suatu masalah.
Penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang didapat benar maka penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan benar atau mengikuti pola tertentu. Cara penarikan kesimpulan disebut logika. Ada dua cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif.
Induksi merupakan cara berpikir dengan melakukan penarikan kesimpulan yang bersifat umum/general berdasarkan kasus-kasus individu/spesifik. Kentungan kesimpulan yang bersifat umum ini yang pertama adalah ekonomis. Dan yang ke 2 bahwa kesimpulan umum ini memungkinkan proses penalaran berikutnya baik induktif maupun deduktif. Dengan demikian memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan secara sistematis
Deduksi merupakan cara berpikir untuk melakukan penarikan kesimpulan dari peryataan umum menjadi pernyataan khusus. Penalaran deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Dari premis mayor dan premis minor kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Contoh :
Semua mahluk memiliki mata - premis mayor
Si A adalah makhluk - premis minor
Jadi Si A memiliki mata – kesimpulan
Ketepatan penarikan kesimpulan bergantung pada kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan cara/keabsahan penarikan kesimpulan. Baik logika deduktif maupun induktif menggunakan pengetahuan sebagai premis-premisnya berupa pengatahuan yang dianggapnya benar. Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif untuk menyusun pengetahuannya. Premis yang digunakannya berasal dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima.
2. Penalaran Ilmiah
Kemampuan menalarlah yang membedakan manusia dari binatang. Kemampuan menalar ini lah kekuatan manusia yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Binatang juga mempunyai pengetahuan tetapi hanya terbatas untuk bertahan hidup. Manusia mampu mengembangkan kemampuannya karena dua hal, yaitu yang pertama manusia mempunyai bahasa untuk berkomunikasi dan mampu menyampaikan informasi atau pendapat. Hal yangke 2 manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut kerangka berpikir tertentu. Penalaran pada hakikatnya adalah proses berpikir dalam rangka menarik kesimpulan atau menemukan kebenaran. Perasaan meruapakan kegiatan peanarikan kesimpulan yang tidak didasarkan penalaran.


B. Hakikat Logika
Menurut Andre Ata, dkk. (2012) dalam Sulaiman (2016), konsep "logika" atau "logis" sudah sering kita dengar dan kita gunakan. Dalam bahasa sehari-hari, perkata­an "logika" atau "logis" menunjukkan cara berpikir atau cara hidup atau sikap hidup tertentu, yaitu yang masuk akal, yang "reasonable", yang wajar, yang beralasan atau berargumen,, yang ada rasionya atau hubung­an rasionalnya, yang dapat dimengerti, walaupun belum tentu disetu­jui atau tentang benar atau salah. Dalam arti ilmiah, perkataan logika menunjukkan pada suatu disiplin ilmui; yang dimaksud dengan disiplin di sini yaitu disiplin ilmiah, yaitu kegiatan intelektual yang dipelajari un­tuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman dalam bidang tertentu secara sistematik-rasional argumentatif dan terorganisasi yang terkait atau tunduk pada aturan, prosedur, atau metode tertentu. Setiap disiplin mewujudkan ilmu atau cabang ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya bio­logi, yaitu disiplin yang termasuk ilmu alam; mikrobiologi, yaitu suatu disiplin ilmu atau subdisiplin yang termasuk dalam disiplin ilmu biologi.
Menurut Arief Sidharta (2010) dalam Sulaiman (2016), kata logika sering juga digunakan un­tuk bahasa percakapan sehari-hari. Kata itu memiliki beberapa pandang­an arti dalam penggunaan secara umum, seperti "wajar", dapat diterima atau bisa juga digunakan dalam arti kultur untuk menggambarkan sikap khas suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks umum, kata logika sering diartikan sebagai "masuk akal, wajar, pantas bisa diterima, atau dapat dipahami."
Dalam dunia akademis, logika sering juga dikenal sebagai salah satu nama mata kuliah yang diajarkan di perguruan tinggi, kalau di perguruan tinggi agama logika ini diidentikkan dengan mata kuliah ilmu mantik. Secara khusus, logika dalam konteks ilmiah kita temukan arti khusus dari logika dan sekaligus mengantarkan kita kepada alasan mengapa logika dipelajari secara formal. Ada dua pandangan yang dapat kita pahami dalam konteks ini. Pertama, Irving Copi seorang filsuf dari USA (2002) - mengatakan, yaitu logika adalah studi tentang metode dan prinsip yang digunakan dalam membedakan penalaran yang baik dan benar dari pena­laran yang buruk dan salah (logic is the study ofthe methods and principles itsed to distinguish good/correct from bad/incorrect reasoning). Pengertian ini menunjukkan bahwa mempelajari logika berarti mempelajari hukum dan prinsip berpikir yang mengatur atau melandasi dan sekaligus mem­berikan alasan mengapa suatu penalaran dapat dikatakan sebagai sesu­atu yang logis dan juga menjelaskan mengapa suatu penalaran harus di­katakan sebagai tidak logis. Kedua, Norman Geisler dan Ronald Brooks (1990) mengatakan dalam Sulaiman (2016), bahwa logika yaitu kajian tentang penalaran yang benar atau menyimpulkan yang valid (sah) dan dapat mengenali adanya kesalahan berpikir baik secara formal maupun informal.
Dari dua paham yang dikemukakan ini, dapat kita katakan bahwa lo­gika tidak hanya mengajarkan bagaimana suatu penyimpulan yang te­pat, tetapi juga membuat kita waspada terhadap kemungkinan kesalahan yang kita lakukan dalam pembuatan kesimpulan. Dengan demikian dapat kita pahami, pengertian logika menurut para pemikir atau filsuf di atas, dalam arti yang khusus, logika sebenarnya merupakan kajian dalam pro­ses penalaran yang bertolak dari penerapan prinsip berpikir dalam suatu penalaran yang tepat, yang digunakan dalam membedakan penalaran yang baik dan benar dari penalaran yang buruk dan salah "sesat berpikir..
C. Logika Dan Ilmu Pengetahuan
Socrates (469-399 SM) dalam Sulaiman (2016) mengatakan ribuan tahun yang lalu, bahwa pada dasarnya manusia bersifat ingin tahu. Keingintahuan yaitu bagian dari kealamiahan manusia. Seorang anak kecil yang masih usia dini ke­tika dia bermain balok kemudian menyusun balok-balok itu menjadi suatu bangunan, akan menemui suatu logika dari permainan itu, misalnya mengapa gedung yang dibuat dari balok itu bisa roboh, lalu dia menemu­kan jawabannya sendiri "oh karena fondasi bangunan yang dia buat tidak besar, jadi tidak punya kekuatan." Lalu si anak ketika membuat bangunan gedung dengan balok kembali, dia membuat fondasi bangunan baloknya dibuat menjadi lebih besar,, agar bangunan yang dibuat tidak ambruk atau rubuh. Begtulah logika dalam ilmu pengetahuan dapat diperkenalkan pada seorang anak hingga seorang ilmuwan dapat mengembangkan logika ber­pikirnya dalam ilmu pengetahuan. Mengapa seorang anak bertanya atas perbuatannya sendiri terhadap balok-balok kayu yang dia susun, ini meru­pakan salah satu bentuk manusia yang penuh dengan rasa ingin tahu.

Untuk baca selanjutnya silahkan baca selengkapnya atau bisa download disini

Thursday, October 27, 2016

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) III

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) III
Selamat datang di materi yang ke dua ini, disini adalah lanjutan materi sebelumnya. silahkan ke materi sebelumnya.



BAB X AGAMA
Berdasarkan ajaran teori relativitas dinyatakan bahwa tiap yuga ada kecendrungan tertetu bahwa tiap jaman memiliki kitab yang berbeda – beda. Didalam jaman kerta yuga kitab weda yang utama, dalam jaman treta yuga kitab Dharmasastra yang utama, di jaman dwapara yuga kitab purana sebagai pegangan utama dan pada jaman kali yuga kitab Agamalah yang paling utama. Dengan demikian pada jaman ini kitab agamalah yang mesti dijadikan pegangan yang utama. Namun bukan berarti hindu menolak kitab Weda pada jaman kali yuga. Kitab agama tergolong mengajarkan tentang mantrayana. Berdasarkan kitab Agama ada empat sistim pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu :
1) sistim jnana
2) sistim yoga Semadhi
3) sistim Kriya atau ritual secara esotrisna
4) sistim charya atau pemujaan dalam bentuk sistim exotrisna
Berdasarkan madzad – madzad maka kitab agama itupun dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : kelompok Waisnawa, kelompok Siwaisme dan kelompok Sakta. Sayangnya madzad – madzad ini memberi dampak yang keliru sehingga terkesan negative. Karena adanya salah tafsir terutama oleh penulis – penulis yang terlalu melebih – lebihkan penggambarannya.
10. 1 Kelompok Kitab Agama Untuk Waisnawa
Isi dari kitab ini adalah mengajarkan mengenai cara pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan segala manifestasinya. Berdasarkana penelitian kitab ini dapat dihimpun menjadi empat bagian yaitu :
1) pancharatra sumber utama yang ada dalam kitab ini adalah dalam santi parwa yang mana menyebutkan ada tujuh nama – nama yang dikenal yaitu : brahma, saiwa, kumara, wasistha, kapila, gautamiya, dan naradiya.
2) pratisthasara
3) waikhasana
4) wijnanalalita
Adapun kitab yang tergolong dalam kitab Waisnawa berdasarkan catatan k.k 214 naskah kitab Waisnawa yang kitabnya terdiri dariiswara, sattwata, brhad, brahma, dll. Adapun madzad yang terkenal sekarang ini dari madzad waisnawa adalah Harekrsna yang berpegang pada kitab bhagawatam dan bhagawadgita.
10.2 Kelompok Kitab Agama Untuk Siwaisme
Madzad siwa berpusat perhatian pada pemujaan terhadap siwa dan segala manifestasinya. Agama adalah dasar perkembangan dari madzad siwa dimana saja. Adapun dalam madzad ini mengakui 28 buah kitab agama yang mana kitab Kamika agama yang dianggap paling penting. Perkembangan madzad siwa di kasmir disebut pratyabhijnha ini berkembang di daerah utara, dan di daerah selatan disebut sebagai madzad siddhanta. Dalam madzad ini tidak hanya berpegang pada kitab weda tetapi juga berpegang pada kita weda sruti dan dharmasastra. Dalam madzad ini tidak memandang ada perbedaan status seperti catur warna.
10.3 Kelompok Kitab Agama Sakta
Madzad ini merupakan bagian dari siwa pada umunya hal ini terlihat dalam sakta dialog antara siwa dengan dewi parwati dan lebih khusus disebut sebagai madzad tantra. Tantrayana pada dasarnya berorientasi pada madzad Sakta dengan sakti atau dewi sebagai segala pusat perhatian. Ada beberapa buku yang perlu diperhatikan untuk memberi keterangan tentang madzad in adalah maha nirwana tantra, kutarnawa, kulasara, prapanchasara, tantraraja, rudra yamala, brahma yamala, wisnu yamala, todala tantra dll. Diantara yang paling terkenal ialah iswara samitha, ahirbudhnyasamitha, sanatkumara samitha, narada samitha, pancharatra samitha, sapanda pradipaka dan maha nirwana tantra. Adapun perwujudan dalam bentuk sakti dewi ini terdapat pada jaman Hayam Huruk berbentuk candi.

BAB XI BEBERAPA ATURAN DALAM MEMPELAJARI WEDA
11. 1 Cara Belajar Dan Mengajar Membaca Weda
Bagi orang yang ingin belajar Weda umur termuda adalah empat tahun dan paling lambat umur 22 tahun selebihnya dari umur itu sudah tidak baik karena dalam sastra dikatakan Wratya dan tidak cocok sebagai orang Arya. Adapun factor – factor yang mesti diperhatikan dalam belajar Weda ialah : pengenalan huruf dan suaranya. Adapun huruf yang dimaksud adalah huruf dewanagari. Menurut kelompok daerah artikulasinya pada waktu pengucapan jenis huruf ini dabagi atas dua bagian yaitu:
1) Kelompok huruf swara (huruf hidup ) yang terdiri atas : a,a,i,i,u,u,e,ai,o,au,r,rr,lr,ll,rr
2) Kelompok huruf wyanjana (huruf mati) terdiri atas :
K, kh, g,gh,,ng (n)
C, ch, j, jh, n
T, th, d, dh, n
P, ph, b, dh,m
S, s (sn), s (c), h
Ks, (ksh), tra, jn
Jadi jelasnya mengenal suara, mengucapkan dengan tepat dan memberikan tekanan secara tepat itu hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Weda dan jangan lupa selalu berlindung dibawah Tuhan Yang Maha Esa.
Faktor yang kedua yang mesti diperhatikan adalah pengenalan terhadap arti kata yang diucapkan atau disebut Wyakarana. Berbeda cara membaca, berbeda juga artinya jadi harus benar – benar diberikan perhatian khusus. Kapan kita memberi tekanan kuat, kapan melemah, kapan panjang, dan kapan pendek. Kesemuanaya harus dijelaskan dalam belajar apakah kepada anak kecil atau dewasa dan mereka harus tunduk terhadap aturan serta cara – cara itu. Mulai dari sekarang kenalilah huruf itu dan mencoba mengejanya, mengenal suaranya sehinga dengan itupun kita akan mendapat pahala.
11.2 Ketentuan – Ketentuan Dalam Weda
Berdasarkan ketentuan dari kitab Smrti bahwa bagi orang yang ingin belajar Weda yang pertama harus di upanayana atau istilah Balinya disebut mawinten yang bertujuan untuk menyucikan orang itu secara lahir dan bathin. Sehingga dalam proses belajarnya mudah memahami pelajaran weda dengan baik setelah itu baru boleh membaca mantra. Upanayana ini dimuat dalam Manawadharmasastra II. 37 bahwa “ upanayana dilakukan pada umur lima tahun dan paling lambat umur 24 tahun (M II.38) dan bila lewat dari itu disebut sebagai Wratya dan tidak boleh diakui sebagai orang arya (M II.39)”. dan diwajibkan ketika mengucapkan mantra harus didahului dengan Om dan diakhiri juga dengan Om hal ini ditegaskan dalam Manusmrti Bab II.74.
Dalam pengucapan mantra harus disertai dengan jasad yang suci lahir dan bathin dengan melakukan pranayama dan pengucapan matra – mantra pawirta, setiap harinya kita harus membaca Trisandhya, dan ketentuan lainnya bagi siswa agar selalu melatih dan membiasakan diri dengan melakukan tapa brata. Dan hal – hal yang dilarang ketika membaca mantra adalah jangan membaca mantra sambil tidur – tiduran, ketika hujan, ketika gempa bumi, ketika angin ribut, dan dalam keadaan cuntaka agar apa yang kita lakukan mendapat Pahala. Dan ketentuan ini tidak berlaku bagi pendeta.

BAB XII PENYEBARAN AJARAN WEDA
Penyebaran weda berdasarkan ketentuan Rg weda X.71.3 telah tersebar luas dan popular melalui lagu yang disampaikan melalui yajna. Dengan demikian maka Weda akan didengar oleh masyarakat umum tanpa mengenal batas. Menurut Rg weda X.71.4 ada empat macam orang yang akan menyebarkan weda yang sesuai dengan profesinya yaitu :Ahli kawisastra, seniman, ahli – ahli yang akan mengubah dan membahas weda dan para pendeta yang melakukan yajna.

Penyebaran menurut pustaka suci Yajur Weda XVI. 1.2.3 dan Rg weda II. 23 yang pada intinya menyebutkan bahwa ajaran weda harus dipopulerkan dan diajarkan kepada semua golongan tanpa membeda- bedakan golongan mereka. Ajaran weda itu harus dihayati bukan hanya untuk dwijati saja tapi juga oleh Sudra dan orang nonhindu pun dapat diajarkan weda itu. Dengan demikian weda akan menjadi popular dan dapat merubah dunia dengan menjadikan pembacanya menjadi orang yang baik.
Adapun pahala bagi orang yang mempelajari Weda, Maha Rsi Manu di dalam Manawadharmasastranya menjelaskan hala – hal sebagai berikut:
Manawadharmasastra Bab II. 14
Srutidwaidam tu yatrasyatm tatra dharmawubhau smrtau,
Ubhawapi hi tau dharmau samyag uktau manisibhih

Terjemhannya:
Pengetahuan smrti diwajibkan bagi mereka yang berusaha mempeloreh pahala material dan kebahagiaan duniawi sedangkan mereka yang ingin memperoleh pahala rohani itu, sruti adalah mutlak

Manawadharmasastra Bab II.26
Waidikaih karmabhih punyair nisekadir dwijan manam,
Karyah sarirasamskarah pawanah pretya ceha ca

Terjemahan :
Dengan melaksanakan upacara – upacara keagamaan yang diwajibkan oleh weda, upacara praenatal dan samskara serta upacara – upacara lainnya akan mensucikan badan serta membersihkan diri seseorang dari dosa – dosanya seteah mati

Manawadharmasastra Bab III. 66
Mantrastu samrddhani kulanyalpa dhananyapi.
Kulasamkhyam ca gacchanti karsanti ca mahadyasah

Terjemahan :
Keluarga yang kaya akan pengetahuan weda, walaupun hartanya sedikit mereka tergolong diantara orang – orang besar dan terkenal

Manawadharmasastra Bab XI.57
Brahmajjnata wedaninda kauta saksyam suridwadah,
Garhitanadyayorjagdhih surapana samani sat

Terjemahan :
Melupakan weda, menentang weda, member kesaksian palsu pembunuhannteman sendiri, memakan makanan yang dilarang, menelan makanan – makanan yang tal layak sebagai makanan adalah enam macam kesalahan yang dosanya sama dengan minum sura

Manawadharmasastra XI.246
Wedabhyaso nwaham saktya mahayajnakriya ksama,
Nasayantyasu papani mahapataka janyapi

Terjemahan:
Mempelajari weda setiap harinya, melakukan panca maha yajna sesuai kemampuannya, sabar dalam menderita, semuanya itu cepat atau lambat akan meleyapkan semua dosa – dosanya walaupu dosa besar sekalipun

Dalam hal ini juga ditegaskan dalan Maitri Upanisad IV. 1.2.3 bahwa merupakan jaminan bagi seseorang akan mencapai kesempurnaan melalui belajar weda serta melakukan kewajiban – kewajiban dengan teratur. Disamping itu dalam Candogya Upanisad XXIII.1 yang menegaskan bahwa “ada tiga kewajiban yang harus dilakukan yaitu melakukan kurban, mempelajari weda dab berdana (bersedekah), itu adalah kewajiban utama. Hidup bertapa merupakan kewajiban kedua sedangkan hidup berumah tangga dengan mengajarkan weda merupakan tugas yang ketiga. Semua itu akan membawa kebajikan pada dunia. Ia yang tetap berdoa akan mencapai kesempurnaan. Jadi sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk selau hidup berdasarkan ajaran weda dan penyebaran ajaran weda kepada semua umat di dunia yang menunjukkan weda bersifat universal.

BAB XIII PETUNJUK PENGGUNAAN WEDA
Dalam menghayati weda tidak cukup melihat aspek Sruti atau Smrtinya saja tetapi seluruh produk Smrti dan wibandha itupun perlu harus dihayati dan dikaji. Sebelum mempelajari weda harus didahului dengan mempelajari kitab Itihasa dan Purana. Dari manusmrti II. 12 menegaskan bahwa kebajikan yang merupakan hakikat daripada Dharma diwujudkan didalam dunia ini berdasarkan kaedah yang tertera dan tersirat dalam Sruti dan Smrti, sadacara, serta Atmanastuti. Karena didalamnya menulis tingkah laku manusia, lembaga – lembaga hindu dalam lingkungan masyarakat Hindu tidak dapat lepas dari kaedah itu.

Sebagai gambaran perbandingan yang mudah, Weda Sruti adalah merupakan UUD agama Hindu dan Weda Smrti adalah UUP Agama Hindu. Dengan demikian peganglah kitab itu sebagai tuntutan hidup yang sesuai dengan keadaan. Adapun sumber hokum yang dijadikan acuan oleh Lembaga Agama Hindu yaitu : Manawadharmasastra XII.108 yang menyatakan “kalau ditanya bagaimana hukunya sedangkan ketentuan belum dijumpai secara khusus maka para sista (ahli) dalam bidang itu akan menetapkan sebagai ketentuan yang mempunyai ketentuan hokum. Manawadharmsastra XII.109 yang menyatakan bahwa “para brahmana tergolong sista menurut weda, adalaha mereka yang mempelajari weda lengkap dengan bagian – bagiannya yang dapat membuktikan pandangnya dari segi Sruti. Manawadharmasastra XII.110 yang menyatakan bahwa “ apapun juga bentuk parisada itu jumlahnya sekurang – kurangnya 10 orang atau tiga orang yang sesuai menurut fungsi jabatannya, keputusannya dinyatakan sah yang tidak dapat diganggu gugat”.

Manawadharmasastra XII. 111 yang menyatakan bahwa “ tiga orang yang ahli weda, seorang ahli dibidang logika, seorang yang ahli bidang mimamsa, seorang ahli bidang nirukta, seorang ahli bidang pengucapan mantra, dan tiga orang dari golongan pertama merupakan anggota parisada ahli yang terdiri dari 10 anggota. Manawadharmasastra XII.112 yang menyatakan bahwa “seorang yang ahli dibidang Rg weda, seorang yang mengerti Yajur weda, dan seorang yang ahli samaweda dinyatakan sebagai anggota majelis parisada yang mempunyai wewenang dalam memutuskan bila perumusan hokum Hindu itu diragukan.

Jika Materi ini bermanfaat Silahkan di download pada materi yang telah disediakan. 

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) II

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) II
Selamat datang di materi yang ke dua ini, disini adalah lanjutan materi sebelumnya. silahkan ke materi sebelumnya.




BAB V WEDANGGA
5.1 Pengertian Wedangga
Wedangga berasal dari kata Angga yang berarti badan atau batang tubuh. Jadi untuk mempelajari Weda itu harus dirumuskan sedemikian rupa, ibarat mempelajari tubuh manusia, kita harus mempelajari semua susunan yang ada dalam manusia itu agar kita mudah memahami apa sebenarnya manusia itu dan apa makna susunan itu. Dari weda itu perlu kita ketahui akar kata, kejadiannya, gaya bahasa, persamaan kata, berbagai kata kias, penggunaan bahasa dalam astronomi, termasuk berbagai macam aspek kajian filsafat yang terkandung. Wedangga sangat penting dan diperlakukan karena kitab ini secara tidak langsung berperan berbagai rambu – rambu lalu lintas sebagai pelita dan sebagai tonggak penuntun dalam memperlajari weda.
5.2 Kedudukan Wedangga Dalam Weda
Kedudukan wedangga amatlah sangat penting dan sangat kuat sehingga tidak dapat dipisahkan dengan weda kalau kita ibaratkan seperti bayi dengan ibunya. Karena dengan wedangga akan membantu seseorang untuk mempermudah memahami dan mempelajari inti hakekat weda.
5.3 Berbagai Macam Wedangga
Menurut cabang ilmu yang dibahas, Wedangga dapat dijabarkan menjadi enam kelompok yang disebut dengan sad wedangga. Sad artinya enam, adapun enam kelompok tersebut adalah sebagai berikut:
1) Siksa yaitu ilmu tentang cara membaca dan cara mengeja
2) Wyakarana yaitu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa
3) Chanda yaitu ilmu yang mempelajari irama atau cara untuk melagukan syair Weda
4) Nirukta yaitu ilmu tentang kosakata yang digunakan dalam Weda
5) Jyotisa yaitu ilmu tentang perbintangan yang digunakan untuk menetukan hari baik dalam upacara tertentu
6) Kalpa yaitu ilmu yang mempelajari tentang pedoman pelaksanaan upacara

BAB VI GARIS – GARIS BESAR ISI WEDA
Garis – garis besar weda dapat dikelompokkan menjadi empat bagian utama yaitu :
1) Kelompok Wijnana yaitu kelompok yang membahas segala aspek pengetahuan termasuk yang didalamnya berbagai silsilah penting. Yang paling menonjol dalam aspek wijnana adalah aspek yang memberi keterangan dasar mengenai pandangan filsafat metafisika (ilmu yang mempelajari gejala – gejala alam atau benda itu) berdasarkan weda.
2) Kelompok Karma adalah kelompok yang membahas segala teori dan infomasi dengan mantar bagaimana dunia ini diciptakan melalui satu kurban besar atau maha yajna yang dilakukan oleh Maha Purusa.
3) Kelompok Upasana adalah kelompok yang membahas segala aspek pengetahuan yang ada kaitannya dengan petunjuk dan cara melakukan hubungan dengan Tuhan
4) Kelompok jnana adalah kelompok yang membahas segala aspek pengetahuan sebagai ilmu murni
6.1 Ajaran Bhaktiyoga
Kata bhakti dalam bhakti yoga berarti penghormatan yang dilakukan dengan penuh sujud, taat, patuh dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai sang pencipta dan penguasa. Dimana bhakti itu dapat diwujudkan dengan jalan kasih sayang terhadap semua mahluk ciptaannya.
6.2 Ajaran Jnanayoga
Jnana yang artinya pengetahuan atau ilmu, dengan jalan jnana yoga artinya kita mengabdikan diri atau hidup ini dengan pengamalan ilmu yang kita miliki.
6.3 Ajaran Rajayoga
Istilah raja yoga adalah merupakan singkatan untuk istilah Rajaguhyayoga, yaitu jalan pengungkapan rahasia yang paling utama (raja). Jenis ini juga disebut Rajawidya atau pengetahuan yang paling tinggi. Ukuran yang paling tinggi karena jenis ini pada intinya merupakan pengungkapan pengetahuan tentang Tuhan.
6.4 Ajaran Wibhutiyoga
Tuhan dengan sifat – sifatnya yang mulia yang melebihi segala yang ada merupakan ajaran Wibhutiyoga. Dengan ungkapan bahwa Tuhan merupakan dewa dari semua dewa, yang maha bijaksana, maha mengetahui, maha adil, maha tinggi, maha kudus, terbaik yang paling baik,tertinggi yang paling tinggi, dan sebagainya yang merupakan ajaran Wibhutiyoga. Ajaran ini adalah penggambaran lahirriah sebagai hasil pengamatan bathin itu. Makna utama dalam ajaran wibhutiyoga berdasarkan bhagawangita adalah sebagai jawaban atau yang memberi jawaban atas pertayaan yang mempersoalkan sifat – sifat Tuhan.
6.5 Ajaran Karmayoga
Karmayoga adalah ajarannya pada masalah – masalah keduniwian. Walaupun didalannya termasuk ajaran ritual, namun bentuk ajaran ritual ini dikaitkan pula pada msalah – masalah dunia. Yang bertujuan untuk memberi dasar spiritual pada masalah dunia.

BAB VII UPAWEDA
7.1 Pengertian Upaweda
Istilah Upaweda diartikan sebagai weda yang lebih kecil dan merupakan kelompok kedua setelah Wedangga. Upa yang berarti dekat atau sekitar, dan weda berarti pengetahuan. Dengan demikian Upaweda berarti sekitar hal – hal yang bersumber dari weda. Upaweda meyangkut aspek pengkhususan untuk bidang tertentu.
7.2 Kedudukan Upaweda
Upaweda pada dasarnya dinyatakan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan weda. Tiap buku merupakan pengkhususan dalam memberikan keterangan yang sangat diperlukan untuk mengetahui dalam weda. Upaweda berfungsi untuk meningkatkan pengertian dan pendalaman serta memberi penjelasan tentang berbagai yang terdapat dalam weda. Jadi kedudukannya sama dengan kedudukan wedangga terhadap weda.
7.3 Berbagai Macam Upaweda
Ada empat bagian dari Upweda yang biasa disebut – sebut adalah sebagai berikut :
1) Ayurweda
Istilah yajurweda, berarti ilmu yang menyangkut bagaimana seseorang itu dapat mencapai umur panjang yang berfungsi untuk dapat mencapai umur panjang atau seratus tahun. Yang termasuk di dalamnya adalah ilmu pengobatan atau yang menjadi objek bidang kedokteran. Ayurweda juga berisikan ilmu yang menyangkut aspek jiwa dan jasmani. Adapun bagian dari ayurweda menurut isi kajiannya, adalah sebagai berikut :
1. Salya yaitu ilmu tentang bedah dan cara pengobatannya
2. Kayacikitsa yaitu ilmu tentang jenis dan macam obat - obatan
3. Salakya yaitu ilmu tentang berbagai macam penyakit pada waktu itu
4. Bhutawidya yaitu ilmu tentang pengetahuan psiko terapi
5. Kaumarabhrtya yaitu ilmu tentang pemeliharaan dan pengobatan penyakit anak – anak termasuk pula cara perawatannya
6. Agadatantra yaitu illmu tentang pengobatan atau toxikologi
7. Rasayamantra yaitu ilmu tentang pengetahuan kemujijatan dan cara – cara pengobatan non medis
8. Wajikaranatantra yaitu ilmu tentang pengertahuan jiwa remaja dan permasalahannya

Adapun pembagian berdasarkan kitab Carakasamitha, adalah sebagai berikut :
1. Sutrasthana yaitu ilmu tentang pengobatan
2. Nidanasthana yaitu ilmu tentang macam jenis penyakit yang paling pokok – pokok saja
3. Wimanasthana yaitu ilmu tentang pathologi, tentang ilmu pengobatan dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang dokter medis
4. Indriyasthana yaitu ilmu tentang cara diagnose dan prognosa
5. Sarirasthana yaiutu ilmu tentang anatomi dan embriologi
6. Cikisasthana yaitu ilmu tentang ilmu terapi
7. Kalpasthana
8. Siddhi
2) Gandharwaweda
Gandharwaweda mengajarkan tantang tari dan seni suara atau music.
3) Dhanurweda
Dhanurweda sering diterjemahkan sebagai ilmu militer atau ilmu penahan. Dhanurweda diajarkan terutama kepada mereka yang menjadi calon pemimpin. Sebagai ilmu dhanurweda memuat keterangan tentang traning, mengenai acara penerimaan senjata, acara latihan pemakaian senjata dan penggunaan senjata. Dan penulis yang dikenal adalah Wiswamitra, Wiracintamani.
4) Arthasastra
Arthasastra adalah ilmu tentang politik atau ilmu tentang pemerintahan. Kauntilya atau Canakya atau Wisnugupta yang dianggap sebagai Bapak ilmu politik Hindu karena beliau sebagai penulis pertama Arthasastra. Adapun empat aliran bidang Arthasastra yang disebut Caturwidya
1. Anwiksaki adalah ilmu saling ketergantungan
2. Wedatrayi atau Trayi juga merupakan ilmu saling ketergantungan
3. Wartta adalah ilmu tentang kesejahteraan
4. Dandaniti adalah ilmu pengetahuan yang lebih menekankan pada sendi – sendi hukum atau pemerintahan yang mengatur kehidupan manusia.


BAB VIII ITIHASA
8.1 Pengertian Itihasa
Kata itihasa berasal dari tiga kata yaitu iti – ha – asa yang artinya sesungguhnya kejadian itu begitulah nyata. Itihasa adalah nama sejenis karya sastra agama Hindu. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan tentang sejarah perkembangan raja – raja dan kerajaan hindu di masa silam. Itihasa dianggap dasar yang paling penting untuk dapat memahami ajaran weda. Ceritanya penuh dengan fantasi, kewiraan yang dibumbui dengan mitologi sehingga memiliki sifat kekhasan sebagai sastran spiritual. Di dalamnya terdapat berbagai dialog tentang social politik, tentang filsafat dan teori kepemimpinan yang diikuti sebagai pola – pola raja hindu.
8.2 Jenis – Jenis Kitab Itihasa
Menurut sifatnya, maka seluruh yang tergolong Itihasa hanya tiga macam yaitu :
1) Ramayana
2) Mahabrata
3) Purana

Secara tradisional jenis yang tergolong Itihasa hanya dua macam yaitu :
1) Ramayana
2) Mahabrata

8.3 Ramayana
Kitab Ramayana merupakan hasil karya terbesar Maha Rsi Walmiki. Menurut hasil penelitian Ramayana tersusun atas 24000 stanza yang dibagi – bagi atas tujuh bagian yang disebut kanda yang terjadi pada jaman Tretayuga. Ramayana adalah sebuah epos yang menceritakan tentang riwayat perjalanan Bhatara Rama yang dianggap sebagai penjelmaan dari dewa visnu sebagai awatara sebagai penegakkan dharma. Adapun ketujuh kanda yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut :
1) Balakanda = menceritakan tentang masa kanak – kanak Rama
2) Ayodyakanda = menceritakan tentang penobatan Rama akan menjadi raja
3) Araniakakanda = menceritakan tentang kehidupan Rama di hutan dengan Lakmana dan dewi Sita
4) Kiskindakanda = menceritakan tentang perang Subali dengan Sugriwa
5) Sundarakanda = menceritakan tentang keindahan alam dalam perjalanan Rama mencari Dewi Sita
6) Yudhakanda = menceritakan tentang perang Rama dengan Rahwana
7) Uttarakanda = menceritakan kembalinya rama ke Ayodya dan proses penyelenggaraan upacara Asuameda

8.4 Mahabrata
Mahabrata adalah bagian Itihasa yang usianya lebih muda dari Ramayana, yang disusun oleh Bhagawan Walmiki. Mahabrata adalah kitab terbesar yang dimiliki oleh Hindu baik dilihat dari segi isi dan ukurannya. Mahabrata memiliki k.1 100.000 buah dan bagian 18 parwa. Bagian yang terbesar adalah Parwa yang ke- 12 memiliki 14.000 stanza. Sedangkan yang terkecil parwa 17 memiliki 312 stanza. Mahabrta terjadi pada permulaan jaman kaliyuga berkisar 3101 SM menurut Prof. Dr. Pargiter. Adapun ke- 18 parwa itu adalah adi parwa, sabha parwa, wana parwa, wirata parwa, udyoga parwa, drone parwa, karna parwa, salya parwa, sauptiak parwa, sentry parwa, santi parwa, anusasana parwa, asuamedika parwa, asramawasika parwa, mausala parwa, maha parasthanika parwa dan swarga rohana parwa.

BAB IX PURANA

9.1 Pengertian Purana
Kata purana berarti tua atau kuno. Kata ini dimaksudkan sebagai nama jenis buku yang berisikan tentang cerita- cerita dan keterangan mengenai tradisi yang berlaku pada jaman dahulu kala. Berdasarkan bentuk dan isinya, purana adalah sebuah Itihasa karena di dalamnya memuat catatan - catatan tentang berbagai kejadian yang bersifat sejarah. Tetapi dilihat dari kedudukannya, Purana merupakan jenis kitab Upaweda yang berdiri sendiri, yang sejajar dengan Itihasa. Purana adalah kitab yang memuat berbagai macam tradisi atau kebiasaan yang menjadi keterangan – keterangan lainnya, baik itu tradisi atau kebiasaan baik itu tradisi local, tradisi keluarga, tradisi suku bangsa, gotra, dan prawara serta cerita tentang metologi.
9.2 Pokok – Pokok Isi Purana
Pada garis besarnya, hampir semua Purana memuat cerita – cerita tentang kebiasaan tradisional yang dapat dikelompokkan dalam lima hal yaitu :
1) tentang kosmologi atau mengenai tentang penciptaan alam semesta
2) tentang hari kiamat atau pralaya
3) tentang silsilah raja – raja atau dinasti Hindu yang terkenal
4) tentang masa manu atau jangka pergantian masa manu ke masa manu berikutnya(manwantara)
5) tentang sejarah perkembangan dinasti Surya atau Suryawangsa dan Chandarawangsa
kelima hal ini dirumuskan di dalam kitab Wisnu Purana III.6.24, yang menegaskan sebagai berikut:
sargaca pratisargaca wamso manwantarani ca,
sarweswetesu kathyante wamsanucaritam ca yat
9.3 Pembagian Jenis Purana
Pembagian kitab purana berdasarkan isinya yang dalam pembagiannya menunjukakan adanya aliran – aliran atau sekte dari Tri Murti dan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1) kelompok Satwika adalah kelompok Purana yang mengutamakan Wisnu sebagai Dewatannya atau dewa tertingi juga diceritakan penjelmaan dewa Wisnu sebagai awatara. Kelompok ini dapat dijabarkan menjadi enam buah buku yaitu : wisnu purana, narada purana, bhagawata purana, garuda purana, padma purana, dan waraha purana.
2) Kelompok rajasika (rajasa) purana adalah kelompok kedua yang mengutamakan Dewa Brahma sebagai Dewatanya. Adapun enam buah kitab dalam kelompok ini yaitu : brahmanda purana, brahmawaiwasta purana, bhawisya purana, markandeya purana (merupakan bukti bahwa di bali pernah terkenal madzad waisnawa dan bhagawata), wamana purana, dan brahma purana. Terdapat juga wisnu dalam penjelasan wamana purana dalam penjelmaan wisnu sebagai manusia cebol.
3) Kelompok tamasika (tamasa) purana adalah kelompok yang ketiga dan terdiri atas enam kitab juga yaitu : matsya purana, kurma purana, lingga purana, siwa purana, skanda purana, dan agni purana. Disini juga terdap penjelasan tentang penjelmaan dewa wisnu sebagai awatara dalam kurma purana.
9.4 Kitab Upapurana
Kitab upa purana merupakan jenis kitab yang terkecil dan merupakan kitab sebagai suplementer. Upa purana ini ditulis oleh Bhagawan Wyasa yang isinya sangat singkat dan pendek. Dengan ada beberapa penemuan tentang awig –awig yang berlaku dibesakih baik dalam bentuk prasasti atau catatan – catatan dalam lontar yang kesemuannya itu dapat dikategorikan dalam upa purana. Upa purana ini banyak memberikan informasi dan manfaat kepada kita mengenai ajaran keagamaan dan acara. Adapun nama – nama yang tercatat dalam upa purana sanatpurana, narasimha, brhannaradiya, siswarahasiya, durwasa, kapila, wamana, bhargawa, waruna, kalika, samba,nandi, surya, parasasra, wasistha, dewi bhagawata, ganesa dan hamsa.

Jika Materi ini bermanfaat Silahkan di download pada materi yang telah disediakan. Silahkan ke materi selanjutnya

Wednesday, October 26, 2016

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) I

Pengantar/ Materi Kuliah Veda (resume) I



BAB I PENDAHULUAN
1.1 Apakah itu weda?
1) Weda sebagai kitab Suci
Weda yang dikatakan sebagai kitab suci Agama Hindu artinya buku ini dinyakini dan dipedomi oleh umat Hindu sebagai satu – satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan mereka sehari –hari ataupun untuk melakukan pekerjaan tertentu. Yang dinyatakan sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkan pun adalah Tuhan yang Maha Suci yang sebagai ajaran suci untuk membimbing dan tuntunan umatnya kejalan hidup yang suci.
2) Weda Sebagai Ilmu Pengetahuan
Weda berasal dari kata sansekerta yang akar katanya Wid yang artinya mengetahui yang berarti pula pengetahuan. Namun tidak semua pengetahuan dapat dikatakan sebagai weda, karena Weda pada dasarnya pengetahuan yang diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia sebagai wahyunya.
3) Weda Sebagai Wahyu Tuhan YME
Seperti apa yang diungkapkan dalam saramuccaya 37 dan manawadharmasastra II.10.1 yang pada intinya menyatakan bahwa “sesungguhnya Sruti adalah Weda dan Smrti adalah Dharmasastra”
4) Weda Sebagai Mantra
Weda dikenal sebagai mantra, pengertian ini dapat kita angkat dari satu konsep penjelasan yang menguraikan bahwa Sruti itu terdiri atas tiga bagian, yaitu :
1. Mantra yaitu untuk menanamkan semua kitab suci Hindu yang tergolong Catur Weda, yaitu Rg Weda, Yjurweda, Samaweda, dan Atharwaweda
2. Brahmana atau Karmakanda yaitu untuk menanamkan semua jenis yang merupakan suplemen kitab mantra, yang isinya khusus membahas aspek karma atau yajna
3. Upanisad dan aranyaka atau yang dikenal dengan nama Jnanakanda, yaitu penanaman semua macam buku Sruti yang terdiri atas 108 buah kitab Aranyaka dan Upanisad. Isinya khusus membahas aspek pengetahuan yang bersifat filsafat.
Oleh karena kitab Upanisad, Bramana maupun Aranyaka tidak pernah dikatakan kitab mantra, maka jelas pengertian mantra khusus mencangkup catur Weda saja. Mantra pengertian lebih sempit dari weda itu sendiri.
1.2 Bahasa Dalam Weda
Bahasa yang digunakan dalam weda adalah bahasa dewa – dewa atau yang disebut dengan bahasa Daiwi Wak. Weda dilihat dari segi bahasa digunakan bahasa Sanskerta, namun lebih dikenal dengan bahasa Daiwi Wak, seperti halnya dalam Dharmasastra, Itihasa, Purana dll. Bahasa dalam weda dapat diklasifikasikan dengan tiga jeis yaitu :
1) Sankerta
2) Sankerta Klasik
3) Sankerta Campuran
1.3 Cara Weda Diwahyukan
Weda itu tidak diwahyukan kepada sembarang orang tetapi bagi mereka yang telah tekun mengadakan tapa brata dan Semadhinya yang telah bertahun – tahun sehingga mereka menjadi peka dan cepat mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Ada tiga cara weda itu diwahyukan adalah sebagai berikut :
1) Turunnya wahyu yang bersifat abstrak, yang dimulai dari suara- suara gema biasa yang lebih diibaratkan sebagai suara pada AUM atau gemanya lonceng kemudian membentuk pengertian kepada maha Rsi istilah ini sering disebut dengan Swara Nada.
2) Wahyu itu masuk kehati para maha Rsi sehingga tersusun pengertian atau kesan. Pikiran yang telah tersusun kemudian disampaikan dalam bentuk peringatan – peringatan yang dihadapi oleh manusia.
3) Para maha Rsi secara langsung melihat kejadian dihadapannya, yang merupakan penglihatan gaib.
1.4 Maha Rsi
Nabi – nabi dalam agama Hindu disebut dalam bahasa sansekerta sebagai Rsi, seorang Rsi adalah tokoh pemikir dan pemimpin Agama Hindu. Dia adalah seorang guru dengan segala sifat – sifatnya yang istimewa. Dia adalah pemikir, selalu aktif, mengendalikan panca indriya nafsu, suka bersemadhi, melakukan yoga Samadhi, selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, dia rendah hati dan tahan Uji. Sebagai pemimpin dia selalu memberi keteduhan dan kesejukan bagi siapa saja yang datang minta pertolongan padanya. Secara fungsional Rsi dibedakan menjadi tiga yaitu : Dewa Rsi, Brahma Rsi dan Raja Rsi. Dan lima jenis Rsi menurut kitab Matsya Purana dan Brahmanda purana yaitu : Brahma Rsi, Satya Rsi, Dewa Rsi, Sruta Rsi, dan Raja Rsi. Adapun Sapta Rsi yang merupakan keluarga Maha Rsi yang paling banyak disebut ialah : Rsi Grtasamada, Rsi Wiswamitra, rsi Warmadewa, Rsi Atri, Rsi Bharadwaja, Rsi Wasistha dan Rsi Kanwa
1.5 Weda Dan Kebangkitannya Kembali
Hampir tenggelamnya weda karena pandangan para pemuka – pemuka Hindu terdahulu yang terlalu mempribadi. Namun karena adanya penelitian bahasa termasuk penelitian weda yang dilakukan sarjana barat pada abad XVII yang sebenarnya bertujuan untuk memperkokoh dan memperluas kekuasaan imperialismenya. Hal ini terbukti dengan dibukanya jurusan Indologi yang pada umunya mempelajari tentang struktur budaya Hindu oleh sarjana barat. Namun kekuatan itu diimbangi dengan adanya gerakan untuk melawan penjajah oleh rakyat India termasuk juga perjuangan keagamaan. Pembaharuan – pembaharuan pun terus dilakukan yang mana gerakan ini dipelopori oleh Brahma Samaj dan Arya Samaj. Tidak hanya itu, tetapi juga dikembangkannya Indologi itu kepada Negara anak benua untuk menambah wawasan mereka tentang struktur budaya yang mereka miliki. Sekitar tahun 1950 penulisan buku – buku yang bersumber dari weda. Dan pada tahun 1980 penelitian weda boleh dikatakan mencapai puncaknya baik tentang tulisan dan bahasanya yang memiliki banyak manfaat untuk kehidupan ini. Namun kita jangan berbangga hati dan berhayal atas kejayaan ini tetapi tetap berjuang untuk hari esok dan tetap melakukan perbaikan terhadap pandangan – pandanga yang keliru tentang Weda.
BAB II KODIFIKASI WEDA DAN PERKEMBANGNNYA
2.1 Upaya Untuk Kodifikasi Perlu
Upaya untuk melakukan kodifikasi yang diprakarsai oleh Bhagawan Wyasa (Byasa) patut kita hargai dan hormati. Upaya untuk mengkodifisir mantra-mantra itu dalam sistematika seperti yang kita warisi sekarang ini, bukan merupakan usaha satu orang melainkan merupakan satu kerja team yang sangat baik. Ini dapat berhasil karena pengaruh Bhagawan Byasa yang cukup disegani dan dihormati oleh para Rsi lainnya.
2.2 Hubungan Guru Dengan Parampara
Mempelajari weda dan mewariskan ajarannya termasuk sabda yang telah diturunkan, kesemua ini merupakan suatu proses yang berdiri sendiri dan sangat besar pengaruhnya dalam memelihara keutuhan Weda baik isi maupun idealismenya. Peranan seorang rsi yang juga sekaligus berfungsi sebagai guru sangat menentukan. Disamping itu peranan seorang siswa (murid atau santri) yang belajar matra itu dari seorang Rsi harus dalam kondisi yang harmonis dan sempurna. Mereka akan terikat oleh seuatu kode etik dan bersifat sakral melalui sistem penerimaan dan upacara yang disebut diksa, baik dalam bentuk upanayana maupun dalam bentuk lainnya. Seorang siswa harus diikat dalam aturan-aturan serta disiplin moral untuk selalu berkata terus terang dan benar serta jujur. Dengan demikian seorang siswa atau santri tidak berani berbohong dan apalagi mempergunakan mantra itu secara keliru. Ini dianggap sebagai suatu kesalahan besar yang berakibat ia harus menebus dosa dengan kesalahan itu. Sebagai akibatnya maka dapat dibayangkan bahwa semua sabda sebagai wahyu yang diajarkan oleh seorang guru kepada para sisyanya benar-benar aman dari korupsi. Sistem moduling proses transformasi seperti ini dikenal dengan nama sistem guru parampara.
2.3 Dasar Pengkodifikasian Yang Ditempuh
Kalau kita perhatikan secara seksama mengenai isi dan samhita yang ada sekarang, tampak adanya metode dan sistim pengkodifikasiannya telah dilakukannya secara cermat dan terkoordinir dengan baik. Di dalam kitab Brahmanda Purana, kita mendapatkan keterangan mengenai cara kodifikasi. Walaupun keterangan yang diberikan mungkin tidak benar sepenuhnya, namun secara teoritis, teori yang dikemukakan di dalamnya sangat masuk akal. Secara umum menurut teori reletivitas dikemukakan bahwa Weda untuk pertama diturunkan pada jaman Krta-yuga. Kemudian selama masa Treta yuga, weda dipelajari, dan pada jaman dwapara weda mulai mendapat perhatian untuk dikodifikasi. Penghimpunan weda pada saat penelitiannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Penghimpunan Berdasarkan Umur Mantra Itu Diturunkan
Berdasarkan umur atau usia mantra-mantra itu dapat dibedakan mana yang paling tua dan mana mantra-mantra yang turun kemudian. Artinya yang pertama diturunkan Rg. Weda merupakan data tertua tentang Agama Hindu.
b. Penghimpunan Didasarkan Atas Pengelompokan Isi Dan Peruntukkannya
Berdasarkan isi dan peruntukkannya Weda dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Sruti isinya :
1. Mantra samhita seperti Rg.Weda, Sama Weda, Yayur Weda dan Atharwa Weda.
2. Kitab Brahmana adalah karma kanda/tata cara melakukan upacara yadnya
3. Kitab upanisad/Aranyaka adalah jnana kanda. Upanisad adalah tuntunan hidup berumah tangga (grhasta), Aranyaka adalah tuntunan bagi seorang samnyasin.
c. Penghimpuan berdasarkan atas dasar resensi menurut keluarga Rsi yang menerima atau pengubahnya.
2. Smerti

BAB III SRUTI
3.1 Pengertian Sruti, Samitha Dan Mantra
Manu dalam kitab Manawadharmasastra mengemukakan bahwa ‘Sruti’ itu sesungguhnya tidak lain adalah Weda. Menurut arti kata Sruti itu sendiri, kata itu berarti wahyu atau revelation. Jadi yang dimaksud dengan Sruti adalah Kitab Wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Samhita adalah himpunan atau kumpulan. Adapun yang diartikan dengan kumpulan atau himpunan ini tidak lain adalah pengelompokan isi yang dikumpulkan menurut fungsinya sehingga membentuk sebuah buku atau lebih. Satu himpunan yang lengkap menurut sistematika kodifikasi Weda itu terdiri atas tiga naskah utama yaitu MantraSamhita, Brahmana, dan Aranyaka/Upanisad. Adapun yang dimaksud dengan mantra adalah semua wahyu yang telah diubah dalam bentuk chanda. Asal mula terbentuknya mantra bersumber dari sabda atau suara yang dinyatakan sebagai sabda Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dinyatakan bahwa mantra itu sendiri adalah Citta-Sakti. Didalam kitab Wiswa-sara Tantra dinyatakan bahwa para Brahman pada waktu pewahyuan itu merupakan wujud sabda. Atas dasar itu maka semua mantra intinya adalah sabda yang merupakan perwujudan daripada Brahman.
3.2 Pembagian Sruti Dalam Samitha
Pada garis besar selurh sruti dapat kita bagi atau kelompokkan dalam empat samhita yang dikenal dengan nama Catur Weda Samhita yang meliputi :
1) Rg.Weda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan (Rc atau Rcas). Arc = memuja (Arc. Rc ). Kitab ini dikumpulkan dalam berbagai resensi seperti resensi Sakala, Baskala, Aswalayana, Sankhyayana dan Mandukeya. Dari lima macam resensi yang masih terpelihara adalah resensi Sakala.
2) Sama Weda Samhita merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terbagi atas dua bagian yaitu bagian arcika terdiri atas mantra-mantra pujian yang bersumber dari Rg.Weda dan bagian Uttaracika yaitu himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan.
3) Yajur Weda Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok yajus, (pluralnya : Yajumsi). Jenis weda ini ada dua yaitu :
1. Yajur Weda Hitam (Krisna Yajur Weda) yang terdiri dari 4 resensi yaitu Kanthakasamhita, Kapisthalakathasamhita, Taithiriyasamhita (terdiri atas dua aliran yaitu Apastamba, dan Hiranyakesin), Maitrayasamhita dan Kalapasamhita.
2. Yajur Weda Putih (Sukla Yajur Weda) yang juga disebut Wajasaneyi samhita. Kitab ini terdiri atas dua resensi yaitu Kanwa dan Madhyandina.
4) Atharwa Weda Samhita merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda yang disebut Atharwangira. Kitab ini terpelihara dalam dua resensi yaitu Resensi Saunaka dan Resensi Paippalada.

BAB IV SMRTI
4.1 Pengertian Smrti
Smrti adalah merupakan kelompok kitab kedua sesudah kelompok Sruti (kitab wahyu) dan dianggap sebagai kitab hukum Hindu karena didalamnya banyak memuat tentang sariat Hindu yang disebut Dharma. Smrti sebagai Dharmasastra bersifat suplemen atau pelengkap dalam melengkapi keterangan yang terdapat di dalam kitab Sruti sehingga antara Sruti dan Smrti itu mesti selaras atau tidak bertentangan. Mengenai hal diatas, kita dapatkan dua keterangan yang termuat dalam sastra yaitu sebagai berikut :
Srutistu wedo wijneyo
Dharmasastra tu wai smrti
Terjemahannya :
Ketehuilah bahwa sesungguhnya Sruti itu adalah Weda
dan Dharmasastra adalah Smrti(manawadharmasastra bab II. 10. 1)
srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrti
Terjemahannya :
Yang dimaksud dengan Sruti itu sama dengan Weda dan dharmasastra sesungguhnya Smrti (sarasamuccya 37)

4.2 Berbagai Macam Dharmasastra
Macam Dharmasatra sangat banya dan penulisannya pun berbagai macam. Dimana salah satu dharmasastra yang paling lengkap dan yang paling sempurna adalah kitab dharmasastra yang ditulis oleh Manu yang sebagai tokoh Maha Resi dan Brahma Rsi. Istilah manawadharmasastra dikenal sebagai sastra yang bernama manupadesa yang artinya Bhatara Manu. Upadesa artinya ajaran dan upadesa ini dapat pula diartikan sebagai Dharmasastra. Kitab Manu itu terdiri atas 10 Bab dan memuat hampir seluruh pedoman hidup manusia baik secara individu,, isinya mencangkup sangat luas.

Kitab Yajnawalkyasmrti kitab yang sama kedudukannya dengan kitab Manu yang ditulis oleh Yajnawalkya. Yang terbagi atas tiga Bab yang membahas masalah Acara, Wyahara dan Prayascitta sebagai tonik utama. Kitab ini mendapat rekomendasi yang cukup luas, terutama tersebar luas di India yang kemudian menjadi dasar hukum yang digunakan oleh Mitaksara.
4.3 Kedudukan Smrti Sebagai Hukum Hindu
Smrti dan Sruti telah dinyatakan sebagai sumber dharma, keduanya – duanya harus diterima sebagai weda dan sebagi dasar untuk merumuskan dharma. Merumuskan dharma artinya disini adalah bagaimana keduanya itu dijadikan sebagai penentu suatu perbuatan itu dharma atau bukan selaras dengan dharma. Apabila keduanya sebagai sumber dharma sudah barang tentu keduannya ini adalah sumber hukum Hindu. Smrti sebagai sumber hokum Hindu berarti smrti dinyatakan sebagai dharmasastra. Dharmasastra sebagai kitab hokum hindu karena didalmnya memuat banyak aturan – aturan dasar yang mempunyai fungsi mengatur dan menentukan sangsi bila perlu. 

Jika Materi ini bermanfaat Silahkan di download pada materi yang telah disediakan. Silahkan ke materi selanjutnya

Sunday, October 23, 2016

Kopi Ngayanga Gula Pedawa (Percakapan Menggunakan Bahasa Pedawa)

Selamat datang di blog ketut supeksa, disini saya akan memberikan percakapan dengan bahasa saya sendiri, dengan bahasa Desa saya tercinta. Bahasa yang akan menunjukkan identitas Desa yang adi luhung. Percakapan ini membahas  tentang kesehatan sederhana dengan judul Kopi Ngayanga Gula Pedawa (Percakapan Menggunakan Bahasa Pedawa). Bahasa keseharian semoga bisa Bermanfaat. Hidup Desa Pedawa. Sebelumnya izinkan saya menghaturkan panganjali umat . "Om Awignam Astu Namo Sidham" Om Swastyastu". Sebelumnya ini hanya Perumpamaan. (Karangan Fiktif Belaka , Dalam Cerita Tidak ada yang sakit, karena membahas Tentang Kesehatan/ Ara ada ne sakit, ne karangan mahas kesehatan) Silahkan Download artikel ini di link yang sudah disediakan.


Wayan Armita & Ketut Supeksa

Kopi Ngayanga Gula Pedawa (Percakapan Menggunakan Bahasa Pedawa)
Pas Dina Radite Ketut Supeksa kal melali di umah I Wayan Armitane. Nepuin I kaki Jali (Ara ada madan I kaki Jali/ Tidak ada namanya Kakek Jali, Karangan Ngae-ngae/ Karangan Fiktif belaka) sakit Tujune kambuh. Kakine  sakit pedalem gati ngilingin tinjok-tinjok kanti mejalan. Kaki ane paling bagu gatine tumben tenjok-tenjok nak biasane seger gatine. Neked lantas di Kubun Armitane (Perumpamaan). (Karangan Fiktif Belaka , Tidak ada yang sakit, karena membahas Tentang Kesehatan/ Ara ada ne sakit, ne karangan mahas kesehatan)
  • Supeksa : "Ki, engken si to adi enjok-enjok ?"
  • Kaki : "Kumat Tujun Kakine do"
  • Supeksa : "Uli pidan si bin kumat ki ?"
  • Kaki : " Ada singa ketelun ba." kanti jani nu beseh."
  • Supeksa : " Men uba si maan mesuntik ?"
  • Kaki : "Uba kunya ba,"
  • Supeksa : "Nyen si cocoina yen kaki mesuntik ?
  • Kaki : "Pak Sukanta rang cocoina"
  • Supeksa : "Uba to nginem pile ?"
  • Kaki : " Uba ba, kula nu bin akicak"
  • Supeksa : "Kanggoang inem pile pang kanti alang ni ki"
  • Kaki : "Nah-nah, ba med gati kunya kaki nginem pil"
  • Supeksa : “ Yen med cobain boreh donsila agen “
  • Kaki : “Engkenang to carane ngae ?
  • Supeksa : “Alih muncuk don Silane, meneh bejek ato cak-cak aduin pamor”
  • Kaki : “ Pamor ne agen ngamah base to ?
  • Supeksa : “ Ue ki, to Cakcak meneh pol-pol tujun kakine pas ngentah”
  • Kaki : “Nyen cai ngurain Ubad kinto ?
  • Supeksa : “Ningeh-ningeh, Kula yen pamor to biasane dingin asane, yen kaki pas sakit tuju ara kebus ngebet-bet asane ?”
  • Kaki : “Ue Kunya”
  • Supeksa : “Nah to ba sangkana don sila misi ubad antibiotik/ anti kuman, dadi masi agen ubad tatu, yen pamore ya ngenyemang, yen sesepa nah bolongan kulite/ pori-porine nyak apang engkes ya, tetepang anae ngagen, yen ubad pang tetep agen mara nyak melah.
  • Kaki : “Nah kal cobain meneh”
Wayan Armita & Kadek Arik Arminiasih

Pas Ketut Supeksa ngeredek ngayang kakine, teka meneh Armita ngayanga I Arik, teka uli mebelanja. Tekane to sambilanga mekedean, kangin kauh, kanti ara ngidang nuturang ayanga ara bakat nuduk munyine. Apa kaden ne Omonganaga.
  • Kaki : " kaki kal ketengah malu pules ni"
  • Supeksa : "Nah, adeng-adeng anae, ngidaang mejalan ki ?"
  • Kaki : " Ngidaang kula kal lawanin rang ba"
I Kaki mejalan ke tengah, enjok-enjok, Sambilanga ngaba tungked. Medalemin gati, budi gisang takut bin nambah sakitne, yen tuju anak ara dadi jel-jel. Nyakitang biasane yen jel-jel.
  • Armita : "Ko kalikengken si mai Tut ?"
  • Supeksa : “Uba ba inunian”
  • Armita : “Nyen ayangmu ?”
  • Supeksa : “Dedianku”
  • Armita : “ Gae anae kopi Rik !”
  • Arik : “Pait apa ne manis ?"
  • Supeksa : “Da ba repot kinto panes gatine do”
  • Arik : “ Ara ba engken, nah kal paitang ne kadung ada Gula Bali (Gula Pedawa)”
  • Supeksa: “Nah dadi masi na, pang maan ngamah Gula Bali (Gula Pedawa), Kula da liunanga yehne”
  • Armita :”Aku teh ara megula gaenang ni”
  • Arik : “Nah-nah, dini malu ngeredek sambil ngantiang Eme ngayanga Bapangku”
  • Supeksa : “Kejaa laja ya pada ? “
  • Armita: “Ya nak nu ketegale, apa kaden uranga pemulana”
  • Supeksa : “Mbe, itang gati ya a”
  • Armita : “Hehehe”
Sambilang ngantiang Kupi, Armita ngayang Ketut Supeksa ngeredek seken gatine, enken ya carah Kedis Ketingklar saling sautin, kanti ne ningehang bisa bengong. Ulian pada ngilingin jelema cara kedis ne saling sautin. Nah agetne ara saling sautin ulian mecacad ne cara cedar, hehehehe.
  • Supeksa : “I Kaki terus jani ngentah Tujune re ?”
  • Armita : “Ue ba do, sada nuayang ngerasang tujune”
  • Supeksa : “Lenan nang mesuntik ara si taen nginem loloh i kaki ?”
  • Armita : “Kapah gati ba meloloh, loloh apa si kunya agen ?”
  • Supeksa : “Ara ya loloh nyegerang tujune, biasane agen ngetisang basang”
  • Armita : “Engken hubungane tuju ngayang ngelauhang basang ?”
  • Supeksa : “Dikeneh Supeksane : (Duh nak cucud bakat pancingin ngomong, mati ba aku jani ara ngidang ngurain, kal adengin-adengin rang ba), Hubungane : yen sakit tuju nak Ototne ne kena, beseh ngayang kaku asane. Yen bangin loloh ngelauhang basangne ngayang liunan ya maan nginem yeh, yen ba lauh basangne pasti nyak masa bedak, trus nyak ba liu nginem yeh. Yen ngemengkenang mngeliunang nginem yeh otot ne kaku to ngigisang sakitne akicak. Lenan nang to panese masi gigisan.”
  • Armita : ” Kadung ngomong-ngomongang loloh, loloh apa to gae ? “
  • Supeksa : “ Biasane, loloh paya pule Gamongan rang nyak ngigisan panese “
  • Armita : “apa to lakarane n enken carane ngae ?”
  • Supeksa : “Aku ara masi nawang carane ngae, tapi kal urain lakarane rang”
  • Armita : “Mbe, nah-nah (ningehang gatine) “
  • Supeksa : “Paya, Pule, Gamongan, Uyah, Lunak, “
  • Armita : “Adi misi lunak ngayang uyah ?”
  • Supeksa : “Pang nyak Masa jaen, yen ara jangin sengeng asane, yen kuat nang sengeng, dadi ara jangin uyah ngayang lunak”
Teruna Pedawa : Armita, Nengah Sumanta, Supeksa, Mahardita

Pas nu melah kredeane teka I Arik ngaba Kupi pait ngayang teh ara megula, disampingne misi Gula Bali (Gula Pedawa) . 
  • Arik : “Ne inem, kangguang ara ada apa !”
  • Supeksa : “Ne ba lengkap gati to”
  • Armita : “Inem-inem malu pang ara ijuan nyem”
  • Supeksa : “Nah, Ememu nu si ngae gula ?”
  • Arik : ” Nu, Kula kapah-kapah gati, Yen jakane pas dadi tuakang rang”
  • Armita : “Yen dini anae kuat-kuat ngopi kanti bisa pang lima awai” tapi anae dini seger-seger yen ara maan kupi mara puruan anae”
  • Arik :” Aku nak sakit terase yen ara maan kupi”
  • Supeksa : “Cocok ba ko cara dadong-dadong” hahahahahaha
  • Arik : “ Apa ya ko jelek “
  • Armita : “ Yen ilingin manesin gati kunya kupine”
  • Supeksa : “Ne manesin gulane ara kunya kupine, yen ane ne tetep maan kupi to ba nemelahang Kletegan Pusuane/ Jantungne “ 
  • Armita : “ Adi kinto ? “
  • Supeksa “ Kupi kandungane Kafein ne nguatang otot jantung, trus yen kuat otot jantunge kleteganne masi ngemelahang, Kletegane ngemelahang jalan getih awae ngelancarang masi. Jalan getihe ngelancarang, pembuluh darahe ara da ne ngentuin.
  • Arik : “ Men yen ara maan kupi adi sakit teras ara nyelekang adane ?
  • Supeksa : “Saja kafein to efekne, ngranayang ketagihan, patuh efekne cara narkoba ne ngranayang ketagihan, tapi yen kafein kadarne akicak. Da rang cara Mbah surip ne nginem kupi ara ngaman-ngamah, enggal ba mati hehehe.
  • Armita : ” Adi bisa ketagihan kinto na ?”
  • Supeksa : “ benehne to madan Kebiasaan. Ko ba biasa nginem kupi, jani ara, nah jelek ba asana ada kuang, sebenehne ngidang ngendaliang apanga ara sakit tersa yen ara maan kupi, tekane uli keneh ne ba biasane, Apa ya ane biasa gaeninmu, meneh ara ko masa ada kuang, kinto asi nang kupi. Yen dot apang ara ketagihan da mekeneh ngupi, kenehang ne len. Tapi ba terdiasa maan kopi/ kafein otomatis darahmene ada ne kuang asane . hehehe
  • Arik : “Man nak biologi”
  • Supeksa :” Ulian melajah”
Ngeredek sampai kangin kauh, meneh saget ba teka bapan ayanga emen armitane:
Bersambung Mani malu kal bin lanturangku, Yen demen nanng basa Pedawan awae mendunia, orain mekejang timpale apang ngagen basa Pedawa. Apang Bahasa pedawa dadi Central komunikasi Basa Bali Aga. Jika anda ingin mendownload artikel ini silahkan download di link yang sudah disediakan  "Om Santih-Santih-Santih Om"