PECINTA IPA

Wednesday, February 4, 2026

CONTOH SOAL KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

CONTOH SOAL KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

1. Manusia mengeluarkan keringat saat berolahraga atau berada di tempat panas. Ciri makhluk hidup yang ditunjukkan oleh aktivitas ini adalah …
a. Nutrisi
b. Ekskresi
c. Adaptasi
d. Reproduksi

 

2. Tujuan utama dari klasifikasi makhluk hidup yang dilakukan oleh para ilmuwan adalah …
a. Menentukan habitat asal setiap makhluk hidup
b. Mempermudah dalam mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup
c. Memberikan nama yang unik untuk setiap individu hewan
d. Memisahkan makhluk hidup yang berbahaya bagi manusia

 

3. Urutan takson dari yang tertinggi sampai terendah pada hewan yang benar adalah …
a. Kingdom – Filum – Kelas – Ordo – Famili – Genus – Spesies
b. Kingdom – Divisi – Kelas – Ordo – Famili – Genus – Spesies
c. Spesies – Genus – Famili – Ordo – Kelas – Filum – Kingdom
d. Kingdom – Kelas – Filum – Ordo – Famili – Genus – Spesies

 

4. Organisme dengan ciri mikroskopis, uniseluler, dan tidak memiliki membran inti sel (prokariotik) termasuk dalam kingdom …
a. Protista
b. Monera
c. Fungi
d. Plantae

 

5. Aturan penulisan nama ilmiah (Binomial Nomenklatur) yang benar untuk tanaman padi adalah …
a. Oryza sativa
b. oryza sativa
c. Oryza Sativa
d. Oryza-sativa

 

6. Jamur tidak dimasukkan ke dalam kingdom Plantae karena jamur …
a. Tidak dapat bergerak aktif
b. Tidak memiliki klorofil
c. Berkembang biak dengan spora
d. Memiliki dinding sel

 

7. Hewan yang memiliki tulang belakang dikelompokkan ke dalam kelompok …
a. Invertebrata
b. Vertebrata
c. Mollusca
d. Arthropoda

8. Alat identifikasi organisme dengan dua pilihan yang berlawanan di setiap tahapnya disebut …
a. Kunci determinasi (dikotom)
b. Mikroskop
c. Herbarium
d. Binomial

 

9. Tanaman paku (Pteridophyta) berbeda dengan lumut (Bryophyta) karena tanaman paku sudah memiliki …
a. Spora
b. Pembuluh angkut (xilem dan floem)
c. Klorofil
d. Rizoid

 

10. Kelompok hewan yang bernapas dengan insang saat muda dan dengan paru-paru serta kulit saat dewasa adalah …
a. Reptilia
b. Pisces
c. Amfibia
d. Aves

 

11. Makhluk hidup berikut yang termasuk ke dalam kingdom Protista mirip hewan (Protozoa) adalah …
a. Amoeba
b. Escherichia coli
c. Jamur kuping
d. Lumut hati

 

12. Perbedaan utama antara tumbuh dan berkembang adalah …
a. Tumbuh bersifat kualitatif, berkembang bersifat kuantitatif
b. Tumbuh berkaitan dengan ukuran, berkembang berkaitan dengan proses menuju kedewasaan
c. Tumbuh dapat kembali ke ukuran semula, berkembang tidak bisa
d. Tumbuh hanya terjadi pada hewan, berkembang hanya pada tumbuhan

 

13. Tumbuhan yang memiliki akar tunggang dan tulang daun menyirip termasuk dalam kelompok …
a. Monokotil
b. Dikotil
c. Gymnospermae
d. Pteridophyta

 

14. Ciri khas kingdom Animalia yang membedakannya dengan kingdom Plantae adalah …
a. Memiliki dinding sel dari selulosa
b. Dapat melakukan fotosintesis
c. Bersifat heterotrof dan tidak memiliki dinding sel
d. Memiliki kloroplas

 

15. Tumbuhan berbiji terbuka disebut Gymnospermae karena bijinya …
a. Tidak terbungkus oleh daun buah
b. Sangat kecil sehingga tidak terlihat
c. Terbungkus oleh cangkang yang keras
d. Hanya berjumlah satu dalam satu buah

 

16. Persamaan ciri utama yang membuat sapi, kambing, dan kelinci masuk dalam kelas Mamalia adalah …
a. Memiliki kelenjar susu dan tubuh berambut
b. Memiliki taring yang tajam
c. Berkembang biak dengan bertelur
d. Memiliki alat gerak berupa sayap

 

17. Bakteri yang membantu proses pembusukan sisa makanan di usus besar manusia adalah …
a. Salmonella typhi
b. Escherichia coli
c. Lactobacillus bulgaricus
d. Mycobacterium tuberculosis

 

18. Tumbuhan kaktus memiliki daun yang berbentuk duri. Hal ini merupakan contoh dari ciri …
a. Iritabilitas
b. Adaptasi
c. Regenerasi
d. Ekskresi

 

19. Penyakit kurap dan panu disebabkan oleh organisme dari kingdom …
a. Monera
b. Protista
c. Fungi
d. Animalia

 

20. Ilmuwan yang memperkenalkan sistem klasifikasi lima kingdom adalah …
a. Carolus Linnaeus
b. Robert H. Whittaker
c. Charles Darwin
d. Aristoteles

 

21. Alga hijau (Chlorophyta) dimasukkan ke dalam kingdom Protista karena …
a. Tidak memiliki klorofil
b. Memiliki tubuh berupa talus (belum memiliki akar, batang, dan daun sejati)
c. Hidup di air asin
d. Tidak dapat membuat makanan sendiri

 

22. Hewan dengan rangka luar (eksoskeleton) keras dan kaki beruas-ruas adalah …
a. Annelida
b. Mollusca
c. Arthropoda
d. Echinodermata

 

23. Contoh tumbuhan Monokotil adalah …
a. Mangga dan jeruk
b. Jagung dan padi
c. Kacang tanah dan kedelai
d. Pinus dan melinjo

24. Makhluk hidup yang memiliki kemampuan autotrof adalah …
a. Jamur
b. Bakteri nitrit
c. Tumbuhan hijau
d. Protozoa

 

25. Dalam nama ilmiah Felis catus, kata pertama “Felis” menunjukkan …
a. Spesies
b. Genus
c. Famili
d. Ordo

 

26. Fungsi pundi-pundi udara pada burung saat terbang adalah …
a. Membantu pencernaan
b. Meringankan tubuh dan membantu pernapasan
c. Melindungi jantung
d. Mengatur suhu dingin

 

27. Pinus dan melinjo termasuk Gymnospermae karena alat reproduksinya berupa …
a. Bunga
b. Spora
c. Strobilus
d. Rizoma

 

28. Semakin banyak persamaan ciri antara dua makhluk hidup, maka …
a. Hubungan kekerabatannya semakin dekat
b. Habitatnya semakin jauh berbeda
c. Tidak akan bisa kawin silang
d. Berebut makanan yang sama

 

29. Perbedaan utama antara Monera dan Protista terletak pada …
a. Membran inti sel (prokariotik dan eukariotik)
b. Cara gerak
c. Jenis makanan
d. Ukuran tubuh


30. Paus termasuk mamalia (bukan ikan) karena …
a. Hidup di air
b. Bernapas dengan paru-paru dan menyusui
c. Memiliki sirip
d. Memiliki kulit yang licin

Sunday, January 25, 2026

Menenun Cahaya di Usia Belia: Mengukir Makna Sebelum Senja Tiba

Menenun Cahaya di Usia Belia: Mengukir Makna Sebelum Senja Tiba
Oleh: Ketut Supeksa, S. Pd.Gr (@supeksatv)
Masa muda seringkali diibaratkan sebagai musim semi dalam bentang kehidupan manusia. Ia adalah fase di mana energi berada di puncak tertinggi, rasa ingin tahu meledak-ledak, dan dunia seakan berada dalam genggaman. Namun, di balik keindahannya yang berkilau, masa muda menyimpan satu sifat yang mutlak: ia fana.

Kilau Indah yang Tak Terulang
Masa muda bukan sekadar angka pada kartu identitas. Ia adalah masa di mana idealisme tumbuh subur. Pada periode ini, fisik kita masih cukup kuat untuk mendaki gunung tertinggi, pikiran kita cukup tajam untuk menyerap ribuan ilmu baru, dan hati kita cukup berani untuk mencoba hal-hal yang dianggap mustahil.

Keindahan masa muda terletak pada kebebasan untuk bereksplorasi. Kita memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan, belajar darinya, dan bangkit kembali tanpa beban tanggung jawab seberat masa tua. Namun, justru karena keindahan yang tampak melimpah ini, banyak yang terjebak dalam ilusi bahwa "waktu masih panjang."

Jebakan Prokrastinasi dan Penyesalan
Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, "Waktu adalah pedang; jika kau tidak menggunakannya untuk memotong, ia akan memotongmu." Dalam konteks masa muda, musuh terbesar bukanlah kegagalan, melainkan penundaan (prokrastinasi).

Banyak orang baru menyadari berharganya masa muda ketika tubuh mulai renta dan daya ingat mulai memudar. Penyesalan selalu datang di akhir, biasanya berupa kalimat: "Seandainya dulu aku lebih berani," atau "Seandainya dulu aku belajar lebih giat." Padahal, waktu adalah satu-satunya sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (non-renewable resource). Sekali ia lewat, ia tidak akan pernah kembali, bahkan jika ditukar dengan seluruh emas di dunia.

Menggunakan Masa Muda dengan Bijak
Bagaimana cara memastikan masa muda kita tidak terbuang percuma? Ada tiga pilar utama yang bisa kita pegang:

Investasi Leher ke Atas: Gunakan waktu untuk mengisi otak dengan ilmu dan keterampilan. Di era digital ini, akses informasi tak terbatas. Jangan habiskan waktu hanya untuk hiburan kosong.

Membangun Karakter dan Integritas: Masa muda adalah waktu terbaik untuk membentuk kebiasaan baik. Disiplin, kejujuran, dan kerja keras yang dipupuk sekarang akan menjadi fondasi kesuksesan di masa depan.

Menciptakan Jejak Bermanfaat: Jangan hanya menjadi penikmat zaman, jadilah pembentuk zaman. Berkontribusilah pada lingkungan sosial, sekecil apa pun itu.

Penutup
Masa muda adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan biarkan ia berlalu seperti angin yang hanya menyisakan debu penyesalan. Mari kita tenun cahaya di usia belia ini dengan karya, cinta, dan dedikasi. Sebelum senja menutup usia, pastikan kita telah menulis cerita indah yang layak untuk dikenang.

Gunakan masa mudamu sebaik mungkin, karena jam dinding tidak pernah berdetak mundur.

Sumber Referensi & Inspirasi:

Covey, S. R. (2004). The 7 Habits of Highly Effective People. (Pentingnya manajemen waktu dan prioritas).

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. (Tentang pertumbuhan mental di usia produktif).

Refleksi Filosofis Waktu dalam Pendidikan Karakter (Kemendikbudristek RI). . 

Integrasi Tri Karana Membedah Sembilan Tingkat Ritual dalam Logika, Etika, dan Norma Keikhlasan

Integrasi Tri Karana: Membedah Sembilan Tingkat Ritual dalam Logika, Etika, dan Norma Keikhlasan


Dalam ajaran Agama Hindu, perjalanan spiritual seorang bhakta (pemuja) tidaklah berdiri di atas satu kaki. Ia berdiri di atas tiga pilar utama yang saling mengunci: Tattwa (Ilmu Kebenaran), Susila (Etika Perilaku), dan Upakara (Ritual/Persembahan). Tanpa sinergi ketiganya, ritual hanya akan menjadi beban materi, dan filsafat hanya akan menjadi teori kosong.


I. Tattwa: Fondasi Logika dan Pengetahuan

Tattwa adalah aspek kecerdasan intelektual dan spiritual. Sebelum tangan bergerak membuat persembahan, pikiran harus memahami "Mengapa" persembahan itu dilakukan.

  • Logika Ketuhanan: Tattwa mengajarkan bahwa Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi) adalah Atintya (tidak terbayangkan), namun Beliau hadir dalam setiap ketulusan. Logika Tattwa menentang konsep bahwa Tuhan "menagih" sesaji yang mahal.

  • Kesadaran Kosmis: Upakara adalah representasi makrokosmos (Bhuana Agung) ke dalam mikrokosmos (Bhuana Alit). Dengan memahami Tattwa, kita sadar bahwa kita tidak sedang menyuap Tuhan dengan materi, melainkan sedang mengharmonisasikan diri dengan alam semesta.


II. Susila: Etika, Norma, dan Integritas Sosial

Susila adalah bagaimana Tattwa dipraktikkan dalam interaksi manusia. Dalam pelaksanaan upacara, aspek Susila sering kali lebih berat ujiannya daripada aspek upakara itu sendiri.

  • Etika "Ngayah": Ritual di Bali/Hindu Nusantara identik dengan gotong royong. Jika sebuah upacara besar dilakukan namun meninggalkan konflik antar-tetangga atau rasa benci, maka secara Susila, upacara tersebut cacat.

  • Integritas Materi (Dharma Artha): Norma agama melarang penggunaan uang hasil kejahatan (korupsi, menipu, judi) untuk kegiatan ritual. Sebuah persembahan sederhana dari hasil kerja keras yang jujur jauh lebih bercahaya daripada upacara mewah dari hasil yang tidak benar.


III. Upakara: Dinamika 9 Tingkatan (Nista, Madya, Utama)

Inilah manifestasi dari fleksibilitas Hindu. Sembilan tingkatan ini diciptakan bukan untuk memilah kelas sosial, melainkan untuk memastikan bahwa setiap orang, dalam kondisi apa pun, tetap bisa terhubung dengan Tuhan.

Berikut adalah rincian mendalam mengenai sembilan tingkatan tersebut:

1. Kelompok Nista (Kecil/Sederhana)

Kelompok ini adalah tingkatan bagi mereka yang mengutamakan esensi di atas eksistensi.

  • Nistaning Nista: Tingkat paling dasar. Cukup dengan air (toya), bunga (puspa), dan doa yang tulus. Ini adalah bentuk minimalis namun tetap sah secara sastra.

  • Nistaning Madya: Penambahan sedikit sarana seperti dupa dan buah sederhana.

  • Nistaning Utama: Tingkatan paling lengkap dalam kategori kecil, biasanya menggunakan Canang Sari dan Banten Pejati.

2. Kelompok Madya (Menengah)

Digunakan oleh masyarakat umum yang memiliki kecukupan finansial namun tetap menjaga kesederhanaan.

  • Madyaning Nista: Mulai menggunakan sarana yang lebih variatif, seperti Pulagembal kecil.

  • Madyaning Madya: Standar umum upacara keluarga di masyarakat pada hari-hari besar.

  • Madyaning Utama: Tingkatan menengah yang hampir mendekati kemewahan, namun tetap terbatas pada lingkup tertentu.

3. Kelompok Utama (Besar/Megah)

Kelompok ini biasanya dilakukan untuk kepentingan orang banyak atau oleh mereka yang memang dianugerahi kelimpahan materi sebagai wujud syukur.

  • Utamaning Nista: Persiapan yang matang dengan melibatkan lebih banyak sarana hewan (seperti ayam brumbun).

  • Utamaning Madya: Upacara besar yang menggunakan sarana seperti kambing atau babi sebagai simbol penetralan sifat kebinasaan.

  • Utamaning Utama: Tingkatan tertinggi (seperti Karya Agung atau Panca Walika Krama). Menggunakan sarana yang sangat lengkap (kerbau, dll) dan dipimpin oleh banyak Pendeta (Sulinggih).


IV. Keikhlasan: Titik Temu Logika, Etika, dan Norma

Keikhlasan adalah "Zat Pengaktif" dari seluruh upakara di atas. Tanpa keikhlasan, sembilan tingkatan tersebut hanyalah angka-angka statistik.

  1. Logika Kemampuan: Agama Hindu mengenal konsep Sakmaning Utama (yang terbaik adalah sesuai kemampuan). Logika yang sehat berkata: "Janganlah upacara hari ini membuatmu tidak bisa makan esok hari." Jika ini dilanggar, maka norma agama tentang menjaga tubuh sebagai "Pura Hidup" telah dilanggar.

  2. Etika Niat: Persembahan harus bersifat Sattwika (tulus dan berdasarkan sastra), bukan Rajasika (pamer kekayaan) atau Tamasika (asal-asalan dan penuh keraguan).

  3. Norma Sosial: Persembahan juga harus mempertimbangkan kondisi lingkungan. Jika lingkungan sekitar sedang dalam kesulitan, menonjolkan kemewahan ritual tanpa kepedulian sosial adalah tindakan yang kurang beretika.


Kesimpulan

Kesempurnaan beragama tercapai ketika kita mampu menjalankan Upakara sesuai tingkatan yang logis bagi dompet dan situasi kita, menjunjung tinggi Susila dalam proses pembuatannya, dan memegang teguh Tattwa sebagai landasan keyakinan kita.

Sembilan tingkatan ritual adalah bukti bahwa Tuhan maha penyayang; Beliau menyediakan tangga yang berbeda-beda agar semua orang, dari yang paling papa hingga yang paling kaya, bisa sampai ke puncak yang sama: Kedamaian Spiritual..